Saturday, March 23, 2013

Kisahku Saat Mengenalnya

Aku tidak menyangka akan mencintai wanita cantik dan sebaik dia. Dan ini belum pernah terbayangkan oleh ku. Entah dia kemasukan setan apa sehingga mau dengan orang seperti aku yang manis ini. Jiiaahh... Yuk kita simak kisahku saat mengenalnya.
Semua itu berawal ketika aku masih bekerja di restoran bernama QQ Kopitiam yang bertempat di Plaza Indonesia. Waktu itu aku masih anak baru, eh gak ding anak lama lah. Kalo anak baru mah masih ada plastiknya ya. Heheh.
Waktu itu aku baru bekerja disitu dan ia sudah lama, ya mungkin sekitar 1 atau 2 bulan lebih dulu dibandingkan aku yang baru masuk di bulan November 2012 lalu. Hari pertama ku bekerja, semuanya berjalan lancar dan sampai akhirnya aku bertemu dengannya.

Ceritanya waktu itu aku diperintahkan oleh Udun salah satu senior ku di bar untuk mengecek barang.
"Pet (panggilan kesayanganku), cek barang gih sana", pungkasnya dengan logat Brebes yang masih kental. "barangnya siapa dun?." jawabku bercanda.
"Ah pukimak kau, ya barang bar buat besok lah".
"Tapi dun, gue kan gak tau tempatnya".
"Itu di kitchen, gih sana buruan". Tegasnya.

Dengan berjalan sedikit kesakitan karena terlalu lama berdiri, aku pun mulai melangkahkan kakiku menuju tempat yang dimaksud. Sesampainya di depan pintu kitchen, semua mata tertuju kepadaku.
"waduh, mau digoreng nih gue". bisik dalam hati.

Tapi dengan bermodalkan senyuman dan sok akrab, aku coba untuk menyapa mereka semua sambil melihat lemari tempat penyimpanan barang - barang yang ingin di cek tadi. Alangkah terkejut aku ketika melihat sesosok, eh bukan sesosok ding..emangnya setan. Maksudnya seorang wanita cantik dengan hidungnya yang mancung.

Deg - degan sih, tapi aku beranikan diri untuk lewat dibelakangnya. Maklum, tempat penyimpanan itu berada tak jauh dari tempat ia ditugaskan. Karena merasa masih baru, aku pun menyapanya.
"Misi ya mbak." kataku. Ya, alhamdulillah sih dia gak jawab.

Singkat cerita, barang - barang tadi sudah aku cek dan aku beritahukan kepada Udun. Seolah tau apa yang baru saja aku lihat, si Udun pun mulai menggodaku.
" Lu abis liat cewek ya?".
"Ah enggak ah." jawabku tersipu malu.
"alah jujur aja deh, cantik gak orangnya."
"apaan sih dun." ngeles.
Dan si Udun pun cengangas cengengesan aja.

Waktu telah menunjukan pukul 23.00 tanda berakhirnya pekerjaan hari ini. Dengan mimik wajah yang masih membayangkan kecantikan wanita tadi, aku pun mencoba menghibur diriku dengan mengajak bercanda rekan kerjaku.

Hari berganti begitu cepat, sudah 2 minggu aku bekerja restoran tersebut. Dan selama itu juga aku masih membayangkan keelokan wajahnya. Karena merasa tahu apa yang aku rasakan, akhirnya teman - teman di bar memberitahu nama wanita yang selalu menggerayangi fikiran ku itu. Ternyata namanya adalah Febri Annisa, gak pake weleh -weleh.

Sungguh nama yang cantik secantik ibunya. Eh salah, secantik orangnya. Rasa penasaran ini kian membesar dan mengganggu hariku. Sampai akhirnya aku sengaja makan siang di area ia bekerja dengan harapan kali aja dia juga lagi makan. Dan beruntung, rupanya harapan itu terkabulkan, dan makan bareng pun tak terelakan lagi.

Saat itu aku hanya sekedar mengobrol basa - basi dengannya. Ya maklumlah, aku suka minder kalo liat cewek cantik. Tapi perasaanku saat itu begitu senang, karena bisa makan bareng dengan wanita secantik dia.

Cukup lama aku terhanyut dengan kecantikan wajahnya sampai - sampai aku lupa dengan diriku sendiri. Dan karena merasa tidak mungkin kalo dia jatuh cinta kepadaku, akhirnya aku buang perasaan ini sejauh mungkin. Sebab, saat itu dia cuek, jutek dan seperti tidak mau tau siapa aku.

Sampai akhirnya dimalam itu ia tidak dijemput oleh kang ojeknya. Kala itu ia sangat gelisah karena bingung ingin naik kendaraan apa. Karena pada malam itu kami pulang kerja sekitar pukul 01.00 WIB, dan mobil angkutan umum sudah tidak beroperasi lagi.

Gegana (gelisah galau merana), itu yang terpancar dari wajahnya. Aku yang saat itu sedang asik nongkrong bersama teman - teman seolah tidak tahu kalau ia sedang kebingungan. Hingga akhirnya temanku yang bernama Novri diminta untuk mengantarnya pulang.

Karena dia tahu kalau aku memendam rasa sama si Febri, lantas ia pun menyuruhku yang mengantarnya. Karena masih baru di Jakarta, jelas aku menolak. Takutnya nyasar, kan kasianan.
Tapi dengan tekad dan berjiwa sosial, akhirnya aku iya kan permintaan temanku tadi.

"Ya udah yuk, gue anterin balik." kataku.
dengan tatapan penuh curiga, si Febri memandangi aku dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
"Tenang aja, aman kok." Kataku meyakininya.

Akhirnya ia pun ku antar pulang dengan menaiki motor kesayanganku. Didalam perjalanan, kami sama - sama diam karena bingung mau ngomong apa. Paling - paling hanya satu dua buah kata yang terucap dari bibirku.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit lamanya, akhirnya kami sampai juga dirumahnya. Karena sudah larut malam, ia pun langsung bergegas turun dari motorku dan lari menuju rumahnya tanpa bilang "terima kasih". Tapi gak apa - apa sih, mungkin dia takut dimarahin nyokapnya.

Keesokan harinya, kami bertemu lagi ditempat kerja. Sama seperti hari kemarin, ia tidak mengucapkan sepatah katapun saat bertemu aku di kitchen.
"huh, keras amat nih hati orang". Gumam ku dalam hati.

Tanpa terasa 3 minggu sudah waktu berlalu, dan pada saat itu aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan yang sedang aku tekuni tersebut. Itu semua bukan tanpa alasan lho, karena aku sudah menemukan pekerjaan yang lebih cocok daripada harus bekerja disitu selama 10 jam setiap harinya.

Bersambung.....

No comments:

Post a Comment