Monday, February 4, 2013

Dilema

Berawal dari curhat via Facebook , aku dan dia memulai kisah ini. Mulanya kami hanya sekedar berteman dikarenakan waktu itu ia mengomentari sebuah status yang kebetulan akun tersebut juga berteman dengan facebook ku.


Singkat cerita, kami pun saling berbalas komentar disitu hingga akhirnya ia meng-add aku. Karena merasa sudah kenal sebelumnya, pastinya langsung akun confirm dong.

Setelah berteman di jejaring sosial tadi, kami sangat sering saling mengirim wall satu sama lain. Hingga akhirnya kami pun menjadi lebih akrab.Tapi saat itu akau belum tau kalo ia rupanya mempunyai hubungan spesial dengan temanku sendiri yang waktu itu memang sering maen bareng denganku jauh sebelum aku memutusakn untuk hijrah ke luar kota.

Octavia Asokha, itulah nama wanita yang sedang kuceritakan sekarang. Dan ia berpacaran dengan temanku yang bernama  Arie Fernan Saputra yang bekerja disalah satu perusahaan alat berat di daerah Bandar Lampung.

Merasa kenal dengan sang pacar, ya saya pun menganggap bahwa Octa juga tema saya. Nah, seiring berjalannya waktu, hubungan mereka pun diterpa banyak masalah.

Dan mungkin karena ia merasa bahwa saya orang yang cocok untuk dijadikan tempat curhat. Ia pun menceritakan semua keluah kesahnya kepadaku. Entah apa yang membuat ia begitu yakin mempercayaiku untuk jadi teman curhatnya.

Namanya curhat, otomatis saya pun menanggapinya dengan serius dan sesekali memberikan masukan kepadanya. Dan alhamdulillahnya ia pun mengindahkan saran yang kuberi.

Keakraban kami pun tak lama diketahui oleh pacarnya yang bernama Arie tadi. Namanya juga pacar, meskipun curhat sama teman sendiri pastinya ada lah rasa cemburu sedikit mah ya walaupun sekecil upil.

Nah setelah saya mengetahui bahwa si pacar kurang suka dengan keakraban kami, aya pun mengerti. Hingga saya memutuskan untuk menjauh sementara waktu. Tapi si Octa malah tak memahami kondisi ini, ia masih saja suka ngajak bercandaan ketika saya mengupdate status dan rupanya itu diketahui oleh Arie.

Akhirnya, si cowok itu marah dan menyuruh Octa untuk menjauhiku. Karena merasa masih punya hubungan, Octa pun menurutinya, dan ia mengirim pesan singkat kepadaku yang isinya kalo Arie tidak suka dengan keakraban kami.

Entah darimana ia dapat nomor saya, karena saya merasa tidak pernah memberikan nomor saya ke Octa. Tapi ya udahlah, itu gak terlalu saya fikirkan.

Octa pun meremove FB ku, tapi tidak dengan nomor handphone ku. Jadi, dibelakang Arie kami masih suka smsan. Saya sih jujur tidak punya perasaan apa - apa sama Octa, tapi dilalahnya kenapa si Octa bisa punya rasa sama saya ya?. Ya mungkin karena ketampanan saya kali ya. Haha.

Tak terasa sudah 1 bulan kami kenal dan hari itu Octa sms saya. Dimana isinya adlah "cariin gw cowok sih?, gw putusan sama Arie." Karena care, saya pun bertanya, "kok bisa putus sih?" Tanyaku.
"Iya, gak cocok aja sama dia, orangnya suka kasar, kadang - kadang mukul." Jawabnya.

Karena bingung bin gak tau bin kelabakan, saya pun menjawab pesan singkat sekenanya saja "Kan lu pernah ngomong sama gue gak mau pcaran jarah jauh, jadi gimana gue mau nyariin lu cowok?". "Iya ya, trus gimana?". Pungkas Octa.

"Gue jomblo, lu jomblo, apa salahnya?" Rayuku memancing omongan sambil bercanda. "ah gak tau deh." katanya.

Hari berlalu begitu cepat dan kami pun masih suka smsan. Sampe akhirnya dia menyarakan perasaannya kepadaku. Kaget!!, ya kaget. Itu yang pertama aku rasain. Kok bisa sih?. Selalu pertanyaan itu saja yang ada didalam fikiranku.

Sungguh hal ini membuat saya dilema, Dilemanya adalah dia mantan teman saya, trus putusannya itu pas banget ketika saya dekat sama dia. Jadi seolah - olah akulah yang menyebabkan perpisahan itu.

Dia (Octa), terus saja smsan yang isinya mau gak jadi pacarku?. Itu - itu saja isi smsnya setiap hari. Karena dilema, saya pun tidak mau membalasnya bahkan saya cuekin tuh smsnya.

Dari smsm sampe nelpon, itu yang dia lakukan demi mendapatkan jawaban dariku. Aku benar - benar bingung saat itu. Masa iya  persahabatan saya pecah cuma karena wanita?. Gak mungkin banget, Bisik dalam hati.

Karena merasa didesak, akhirnya pada tanggal 20 Januari akupun meng-approve permohonannya tersebut. Itupun secara terpaksa lho, alasannya karena dia selalu memaksa.

Tapi aku tak lantas bahagia dengan menyatuinya 2 hati. Karena aku merasa tidak enak sama Arie yang pernah makan bareng, tidur bareng, cuma ***** aja yang gak bareng.

Menurut kalian, salahkah saya bila menerima cintanya?. Trus apakah dengan bgietu saya bisa dikategorikan sebagai lelaki perusak hubungan orang?.
Sungguh dilema hati ini, dilem sekali. Tuhan bantu aku..

No comments:

Post a Comment