Friday, October 12, 2012

Ku Melepasmu Karena Ku Mencintaimu

Ku melepasmu karena ku mencintaimu adalah sebuah gambaran dimana kita sebagai manusia mempunyai titik jenuh dalam sebuah hubungan yang hanya akan membuat kita ragu untuk menjalaninya. Seperti apa kelanjutannya. Mari kita lihat selengkapnya.


Allah menghendaki kami sebuah pertemuan, aku mengagumi pribadinya yang sederhana dan shaliha. Namun siapa sangka ternyata dia pun menyimpan rasa yang sama. Lalu kucoba untuk ungkapkan perasaanku kepadanya.

Namun sayang, cinta itu datang disaat yang belum tepat. Karena ia masih mempunyai amanah yang belum terselesaikan. Dan mungkin dia masih harus menanggung amanah tersebut dalam jangka 2 tahun lagi.

Dikarenakan rasa sayang ini terlalu besar kepadanya, akhirnya aku pun bersedia untuk menunggunya. Menunggu dibatas waktu yang sudah ditentukan oleh kami berdua. Dia akan menjauh dengan dunianya dan aku pun akan menjauh dengan duniaku sendiri.

Tidak mungkin bagi untuk mengikat cinta yang biasa disebut dengan PACARAN. Hal tersebut hanya disebabkan satu hal, yakni dia tidak ingin menyakitiku. Akan tetapi saat itu dia berjanji akan kembali kepadaku setelah amanah tersebut selesai.

Karena tidak adanya ikatan antara kami, kamipun merasa takut jika kami tidak dapat bersatu. Tapi rasa takut itu dikalahkan lagi oleh rasa takut kami pada-Nya, jika harus menjalin asmara dalam keadaan kami yang faham akan syariat Islam. Lalu ia pun pergi dengan senyum manisnya, dan aku pun bersiap untuk menantinya hingga batas waktu yang sudah ditentukan.

Tadinya ku berpikir menunggu dibatas waktu itu sangatlah mudah. Namun nyatanya semua itu tak semudah seperti apa yang kubayangkan. Entah mengapa ini bisa terjadi?. Apakah ada campur tangan setan, atau aku sendiri yang tak mampu mengendalikan hawa nafsuku?.

Selepas kepergiannya.
Rasa cinta yang ku simpan rapih didalam hatiku, kini mulai menjadi boomerang untukku sendiri.
Rasa cinta itu berbuah menjadi rindu yang mencabik - cabik hati. Diri ini pun bertanya, mampukah aku tetap diam meski bathinku menjerit perih karena rindu?.

Dalam setiap sujudku, bayangannya pun tak mau absen menggangguku. Bayangannya selalu hadir mengganggu kekhusuk'an shalatku, bahkan waktu senggangku pun dipenuhi oleh bayangan - bayangan masa depan untuk hidup bersamanya. Sungguh ini semua membuatku menjadi panjang angan - angan. Astaghfirullah, apa yang terjadi pada diriku?.

Jika orang yang berpacaran bisa mengobati kerinduan mereka dengan pertemuan, menghubungi via telephone sebagai penawar rindu. Lalu aku?, apa yang bisa aku lakukan agar rasa rindu ini tak lagi mencabik - cabik hatiku?.

Istighfar, ya Istighfar...
Mungkin lafadz inilah yang harus aku ucapkan sebanyak - banyaknya. Namun, jika aku sudah kembali diam, rindu itu akan kembali datang merongrong hatiku.

Rasa rindu yang semakin hari kian menyiksaku, akhirnya mampu membuatku khilaf dengan mengucapkan padanya dan mengungkapkan "betapa tersiksanya aku menanggung derita cinta ini". Aku benci diriku sendiri, kenapa aku tidak mampu menahan diri.

Ternyata aku tidak mampu menunggunya dengan tetap diam menjaga Izzah sampai ke batas waktu. Meski aku tidak berpacaran dengannya, tapi aku sudah banyak mengecewakan Rabb-ku dengan mencintainya.
Aku telah melakukan aktivitas yang tidak disukai-Nya. Merindukan dia melebihi rinduku pada-Nya, mengingat ia melebihi aku mengingat-Nya. Bahkan waktu istimewa antara aku dan Rabb-ku pun tak luput dari kejaran bayangannya.

Akhirnya aku putuskan untuk berhenti. Berhenti menanti dibatas waktu dan berhenti berharap serta memberikan harapan. Aku tak sanggup lagi jika harus menanggung cinta itu dengan bermaksiat kepada-Nya. Aku tak sanggup menunggu, jika penantian itu bagaikan penyakit yang semakin hari semakin membuatku lemah dan menyiksa bathinku. Dan aku tidak sanggup lagi berharap, jika harapan itu hanya membuatku menjadi panjang angan - angan.

Aku hanya ingin segera mengembalikan cinta itu kepada yang menganugerahkan. Karena hati ini adalah milik-Nya dan menjaga hati ini adalah tanggung jawabku.

Aku akan melepasmu dari hatiku....
Aku lebih memilih hidup tenang bersama cinta-Nya.
Karena cintamu hanya menghadirkan kegundahan dan penderitaan dalam hidupku.

Biarlah Allah Ta'ala yang memilihkan calon puteri untukku didalam genggaman-Nya. Ku harap, Ia mempertemukan aku dengan seorang puteri yang mencintaiku karena-Nya.
Ku lepas cintamu dari hatiku.

Sekian


No comments:

Post a Comment